KATA PENGANTAR
Puji syukur
saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya
saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya
ucapkan terima kasih kepada guru pembimbing dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga
dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.
Amin.
Sragen, Februari 2012
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
Judul ……………………………………………………………………1
Halaman
Pengasahan ……………………………………………………………. 2
Kata
Pengantar …………………………………………………………………... 3
Daftar
Isi ……………………………………………………...…………………. 4
Persembahan
…………………………………………………………………….. 5
Bab I
Pendahuluan ………………………………………………………………. 6
1.1 Latar
Balakang ……………………………………………………………….6
1.2 Pembatasan
Masalah …………………………………………………………6
1.3 Manfaat
………………………………………………………………………6
Bab II
Kajian Teori………………………………………………….……..……..7
Bab III
Pembahasan………………………………………………….……..…22
Daftar
Pustaka ………………………………………………………..………. 24
PERSEMBAHAN
PERSEMBAHAN
Makalah
ini Saya persembahkan untuk:
1.ke dua
orang tua saya yang telah membantu biaya pembuatan makalah ini
2.Bp.Yulianto,
M.Pd selaku guru mata diklat yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini
3.Teman-teman
yang saya sayangi
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Karena
semakin majunya perkembangan teknologi maka system EFI sangat berpengaruh untuk
mendapatkan ssebuah kendaraan yang mewah, efisien, dan irit bahan bakar serta
ramah lingkungan. Maka dari itulah Makalah ini dibuat, Selain itu makalah ini
juga untuk melengkapi tugas study mata pelajaran SYSTEM EFI yaitu tentang
macam- macam sensor pada EFI
B.
.Pembatasan Masalah
Makalah
ini dibatasi pada:
1.
Macam – macam sensor pada system efi
2.
Fungsi sensor pad EFI
3.
Letak sensor
C.MANFAAT
1.
Kita dapat mengetahui macam- macam
sensor pada sistem EFI
2.
Kita bisa mengetahui letak dan posisi sensor
sensor EFI
3.
Kita dapat mengetahui fungsi sistem EFI
BAB II
KAJIAN TEORI
Ø Mengenal Bagian-Bagian Sensor – sensor pada Mesin EFI
Mesin
mobil adalah sebuah sistem yang cukup kompleks, semua parts bekerjasama untuk
menghasilkan tenaga yang akan dikonversi menjadi daya gerak mobil tersebut.
Mari kenali beberapa Parts mesin yang krusial.
Berikut adalah
istilah-istilah pada mesin dan bagian-bagian mesin yang dirasa perlu kita
ketahui :
Ø
DOHC
Double
Over Head Camshaft (disebut juga twincam). 2 (dua) camshaft dalam 1 (satu)
cylinder head. Pada timor, diaplikasikan pada S515i yang menggunakan teknologi
injeksi pada system pembakarannya.
Ø
SOHC
Single
Over Head Camshaft. 1 camshaft dalam 1 cylinder head, pada timor diaplikasikan
pada S515 yang menggunakan teknologi karburator pada system pembakarannya.
Ø
ECU (DOHC)
Engine
Control Unit, dikenal juga dengan EMS atau Engine Management System, adalah
system elektronik yang mengontrol beberapa aspek pada mesin. ECU menentukan
jumlah bensin, waktu pengapian dan beberapa parameter lain yang dimonitor oleh
sensor yang ada dimesin yang memberikan signal berupa besaran arus atau
resistansi.Letaknya kurang lebih di bawah tape mobil (didalam Kabin)
Ø
TPS (DOHC)
Throttle
Position Sensor, adalah sensor yang digunakan untuk memonitor posisi throttle
pada mesin. Sensor ini biasanya berbentuk potensiometer yang berubah-ubah nilai
resistansinya sesuai dengan posisi daripada flap. Signal yang dihasilkan
kemudian dikirimkan ke ECU sebagai input untuk mengontrol Waktu pengapian dan
waktu injeksi.
Biasanya
terletak pada Throttle body bagian butterfly spindle (flap throttle), sehingga
dapat secara langsung memonitor posisi bukaan dari flap tersebut.
Ø
ATS (DOHC)
Air
Temperature Sensor, sensor yang berfungsi untuk menghitung temperatur udara
yang masuk. Letaknya pada belalai gajah.
Ø
MAP Sensor (DOHC)
Manifold
Absolute Pressure Sensor, adalah sensor yang menghasilkan informasi tekanan
secara instant yang digunakan untuk menghitung kepadatan udara (air density)
dan menentukan Air Mass Flow Rate yang kemudian digunakan ECU untuk menghitung
jumlah aliran bahan bakar yang sesuai,
Data-data lain yang
diperlukan untuk kendaraan yang menggundakan MAP system adalah Speed Density,
Putaran mesin, dan temperatur udara. Letaknya diatas pipa AC (diruang Mesin),
berbentuk kotak hitam ukuran sebesar korek api.
Ø
WTS (DOHC)
Water
Temperature Sensor, sensor yang berfungsi untuk menghitung temperatur air
pendingin yang bersirkulasi di dalam mesin. Letaknya di dekat transmisi.
Ø
ATS (DOHC)
Air
Temperature Sensor, sensor yang berfungsi untuk menghitung temperatur udara
yang masuk. Letaknya pada belalai gajah .
Ø
ISC (DOHC)
Idle up
Speed Control, adalah part yang berfungsi untuk menjaga iddle / putaran mesin
pada saat beban lain menyala, seperti AC dan Power Steering. Berfungsi juga
sebagai automatic choke pada saat mesin dingin, pada timor karburator (SOHC)
alat yang kurang lebih berfungsi sama dikenal dengan nama Vaccum Tripple Act.
Ø HLA(DOHC/SOHC)
Hydraulic
Lash Adjuster, adalah part yang berfungsi untuk menjaga celah bukaan katup /
klep agar tetap 0.00 mm, dengan adanya part ini, timor kita tidak akan pernah
stel klep. Letaknya di dalam cylinder Head, jumlahnya 16 untuk DOHC, 8 untuk
SOHC
Ø
Ignition Timing / Waktu
pengapian (DOHC/SOHC)
Adalah
waktu pengapian (spark/ignition) yang terjadi pada combustion chamber (pada
saat power stroke) relativ terhada posisi piston dan kecepatan angular
crankshaft.
Setting yang tepat akan
mempengaruhi ketahanan mesin, keiritan bahan bakar dan performa mesin. Untuk
DOHC standar pengapian 8 +/- 2 derajat. Untuk SOHC standar pengapian 4 +/- 2
derajat
Ø
Timing Belt (DOHC/SOHC)
Part
yang berfungsi untuk mengontrol timing dari katup. Timing belt menghubungkan
crankshaft dengan camshaft yang kemudian mengontrol buka dan tutupnya katup.
Letaknya di samping kiri cylinder Head, bentuknya belt yang bergigi pada bagian
dalamnya, pada penggantian timing belt disarankan untuk sekalian mengganti
idler-nya.
Ø
Radiator (DOHC/SOHC)
Adalah alat yang didesign sebagai heat exchanger atau untuk
mentransfer energi panas dari satu media ke media lain untuk keperluan
pendinginan atau pemanasan.
SENSOR UTAMA MESIN INJEKSI
Intake Air Temperature.(IAT)
Sensor temperature udara masuk
(Intake air temperature) merupakan sensor koreksi yang biasanya terpasang pada
air cleaner atau hose antara air cleaner dengan throttle body. Sensor ini
berupa thermistor dengan bahan semikonduktor yang mempunyai sifat semakin panas
temperature maka nilai tahanannya semakin kecil.
Sensor Intake air temperature
memiliki 2 kabel yang keduany dari Engine Control Modul (ECM). ECM akan
mensuplay tegangan sebesar 5 volt dan memberi ground untuk sensor. Karena nilai
tahanan pada sensor bervariasi akibat perubahan temperature maka tegangan yang
mengalir dari ECM juga bervariasi. Variasi tegangan inilah yang dijadikan dasar
bagi ECM untuk menentukan temperature udara masuk yang tepat sebagai input
untuk menentukan koreksi jumlah bahan bakar yang disemprotkan oleh injector.
Pada kendaraan Suzuki yang menggunakan Intake air temperature sensor adalah
Baleno 1.6, Baleno 1.5, Escudo 2.0,Aerio,Baleno Next G ,EverY, XL7, New Escudo
1.6. Posisi Intake air temperature sensor pada air cleaner dapat dilihat pada
gambar

Gambar. Posisi IAT pada Air
Cleaner

Gambar. Skema Intake Air
Temperature terhadap ECU
Hubungan
antara nilai resistensi pada intake air temperature sensor dan kenaikan
temperature dapat dilihat pada gambar

Gambar
. Grafik hubungan antara nilai resistensi dan temperature
Throttle Body
Fungsi
throttle body adalah sebagai saluran utama yang dilalui oleh udara sebelum
masuk ke intake manifold. Konstruksi throttle body dapat dilihat pada gambar

Gambar.Konstruksi Throttle Body
Komponen-komponen
pada throttle body dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Throttle valve.
Throttle
valve berfungsi untuk membuka dan menutup saluran utama yang dilalui udara pada
throttle body.Digerakan oleh acceleration pedal (pedal gas).
b.Throttle Position Sensor (TPS)
Throttle Position
Sensor (TPS) adalah sensor pada sistem EFI yang berfungsi mendeteksi bukaan
throttle valve dengan menggunakan potensiometer. Throttle Position Sensor
terletak menempel pada throttle body (Gambar 18) dan wujudnya adalah
potensiometer (variable resistor) yang dihubungkan dengan poros throttle valve,
untuk mendeteksi posisi bukaan katup gas (throttle valve) tersebut secara
akurat, dengan outputnya adalah tegangan 0 – 5 volt yang dikirim ke Eletrical
Control Unit (ECU).

Gambar. Letak Throttle Position
Sensor pada Throttle Body.
Throttle position sensor (TPS) adalah
sebuah potensiometer yang secara konstan mengirim berbagai sinyal bertegangan
ke ECU. Potensiometer adalah semacam resistor yang mengubah gerakan mekanik
menjadi sebuah voltage. Pada Throttle Position Sensor, voltage ini berhubungan
langsung dengan throttle valve position. Ketika pengemudi menekan pedal gas,
maka Throttle Valve terbuka. Setelah Throttle Valve terbuka, sinyal bertegangan
tinggi dikirim dari Throttle Position Sensor ke ECU.
Informasi yang diterima ECU
diterjemahkan sebagai Acceleration Mode dan Decceleration Mode

Gambar. Skema Throttle Position Sensor
terhadap ECU

Gambar. Output Tegangan TPS
terhadap bukaan Throttle Valve
Throttle Position Sensor terdiri
atas 2 type :
1.Throttle Position Sensor Rotary
2.Throttle Position Sensor Linear
Kedua tipe ini
mempunyai sebuah koil yang kabelnya mempunyai perlawanan terhadap material
lain. Kabel paling akhir dihubungkan ke massa. Kabel yang lain dihubungkan ke
reference voltage 5 volt (V REF) dari ECM. Sebuah slide atau wiper blade dihubungkan
ke poros throttle valve dan bergerak sepanjang koil selama perubahan throttle
position. Kedua type TPS dapat dilihat pada gambar


Gambar.
Dua type Throttle Position Sensor, Rotary dan Linear .
Fast Idle Air Control
(FIAC).
Fast
Idle Air Control (FIAT) berfungsi untuk menambah jumlah udara yang masuk ke
saluran udara masuk (intake air chamber) saat katup gas (throttle valve)
tertutup dan temperature masih dingin. Dengan bertambahnya jumlah udara masuk
maka Engine Control Modul (ECM) akan mendeteksi dan akan menambah bahan bakar
yang disemprotkan ke injector sehingga putaran mesin menjadi lebih tinggi dari
putaran idle (Fast idle).
Fast Idle Air Control terbuat dari
thermo wax yang bekerjanya sesuai dengan temperature mesin. Jika temperatur
mesin masih dingin, maka thermo wax belum mengembang sehingga jumlah udara yang
masuk melalui saluran bypass menjadi lebih banyak.


Gambar. Posisi Thermo wax
Saat temperature mesin panas maka
thermo wax akan mengembang dan saluran bypass akan menyemipt, jumlah udara yang
masuk menjadi berkurang, putaran idle.
Pada beberapa kendaraan FIAC
dipasangkan menyatu dengan IAC, namun ada pula yang dipasang terpisah contohnya
: Vitara, Baleno 1.6 dll.
Idle Air Control (IAC)
Idle Air Control (IAC) berfungsi
untuk menambah atau mengurangi jumlah udara yang masuk ke intake air chamber
saat throttle valve tertutup pada kondisi temperature mesin masih dingin (fast
idle) dan saat beban eletrik difungsikan (idle
up). Jika beban
listrik difungsikan (lampu-lampu, A/C,P/S) maka katup Idle Air Control akan
membuka untuk menambah udara yang masuk ke intake air chamber. Dengan
bertambahnya udara yang masuk, maka Engine Control Modul (ECM) akan mendeteksi
dan menambah jumlah penginjeksian pada injector. Demikian sebaliknya, jika beban
listrik tidak difungsikan maka katup Idle Air Control (IAC) akan menutup
sehingga putaran mesin kembali ke idle.
Jika ditinjau secara
konstruksinya, Idle Air Control (IAC) terdiri atas 2 type yaitu:
a.Type rotary valve.
b.Type stepping motor
Idle
Speed Adjusting Screw (ISAS).
Umum putaran stasioner (idle)
telah ditentukan oleh Engine Control Modul (ECM), namun pada beberapa jenis
mesin efi/epi masih menggunakan Idle Speed Adjusting Screw (ISAS) untuk
mengatur besar kecilnya putaran stasioner (idle) secara manual. Jika pada
karburator, Idle Speed Adjusting Screw (ISAS) disetel untuk mempengaruhi besar
kecilnya pembukaan katup gas (throttle), maka pada mesin efi/epi, ISAS disetel
untuk mempengaruhi besar kecilnya udara yang masuk ke intake air chamber saat
idle.
ISAS ditempatkan tidak pada saluran
udara IAC, melainkan pada saluran bypass yang berbeda.

Gambar . ISAS terpasang pada Throttle
body
Mass
Air Flow (MAF) Sensor.
Mass
Air Flow (MAF) berfungsi mendeteksi jumlah udara yang masuk ke intake air
chamber.Jika ditinjau secara konstuksinya, MAF sensor terbagi atas 3 jenis
(type) :
a.Measuring Plat Type
b.Measuring Core Type H
c.Heat Resistor Type.
a. Measuring plat type.
Sensor ini terdiri dari plat
pengukur, pegas pengembali dan potensiometer. Udara yang masuk ke intake air
chamber akan dideteksi dengan gerakan membuka dan menutupnya plat pengukur.
Plat pengukur ini ditahan oleh sebuah pegas pengembali.
Plat pengukur dan potensiometer bergerak
pada poros yang sama, sehingga sudut membukanya plat pengukur akan merubah
nilai tahanan potensiometer.

Gambar. Konstruksi MAF Sensor
type plat.
Variasi nilai tahanan ini akan dirubah
menjadi output voltase sensor ke ECM sebagai dasar untuk menentukan banyaknya
jumlah udara yang masuk ke intake air chamber.
b. Measuring core type H.
Air flow meter tediri dari inti
pengukur, pegas pengembali, potensiomete, rumah dan lain-lain. Terpasang
diantara saringan udara dan intake manifold. Sensor ini mendeteksi jumlah
uadara yang masuk ke dalam mesin dan mengirim informasi ke ECM sebagai sinyal
voltase. ECM menggunakan sinyal ini sebagai salah satu input ke ECM untuk
mengontrol besaran penginjeksian.
Measuring core bergerak kea rah
samping sebanding dengan jumlah udara yang masuk. Pada posisi tersebut atau jumlah
udara yang masuk dideteksi oleh potensiometer yang dipasang pada measuring
core.
Pada type ini, sensor jumlah
udara masuk menjadi satu unit dengan sensor temperature udara masuk. Voltase
referensi 5 volt dari ECM digunakan pada sensor jumlah masuk dan sensor
temperature udara masuk.
Ketika slider potensiometer bergerak
melalui resistor sesuai dengan jumlah udara masuk (besarnya aliran udara masuk)
sinyal voltase yang keluar ke ECM bevariasi sesuai pergerakan slider

Gambar. Konstruksi MAF sensor type core
c. Heat resistor type.
Head resistor type sebagai
komponen dasarnya saat ini hampir digunakan pada semua jenis kendaraan efi/epi.
Head resistor mempunyai sifat dapat berubah nilai tahanannya apabila
temperature di permukaan resistor berrubah. Perubahan temperature pada
permukaan resistor diakibatkan oleh gerakan aliran udara yang melewati
permukaan heat resistor.
Variasi tahanan ini akan dirubah dalam
bentuk variasi voltase yang akan dikirim ke ECM sebagai dasar untuk menentukan
banyaknya udara yang masuk ke intake air chamber. Sensor type ini biasanya
terdapat 3 jenis kabel yaitu kabel input dari ECM (12 volt), output dari sensor
ke ECM (variasi 0 – 5 volt), dan kabel massa sensor yang akan dimassakan ke
bodi kendaraan.

Gambar. Konstruksi MAF sensor type heat
resistor
Manifold
Absolute Pressure (MAP)
Manifold Absolute Pressure (MAP)
adalah sensor yang mendeteksi tekanan udara yang masuk ke intake air chamber
sebagai dasar penghitungan jumlah udara melalui IC (integrated circuit) yang
terdapat di dalam sensor ini.
MAP sensor menghasilkan sinyal
tegangan yang segera dikirim ke ECM. Oleh ECM sinyal tegangan ini digunakan
untuk menentukan basic injection time.
MAP sensor terdiri dari semi
konduktor type pressure converting element yang berfungsi merubah fluktuasi
tekanan manifold menjadi perubahan tegangan dan IC yang memperkuat perubahan
tegangan. Pada MAP sensor jug terdapat 3 jenis kabel
yaitu input 5 volt (reverence voltase)
dari ECM,Ground dan output dari sensor ke ECM bervariasi antara 0- 5 volt.

Gambar. Konstruksi MAP Sensor
Hubungan antara Output voltage dengan
perubahan jumlah udara masuk berdasarkan kevakuman pada intake manifold.
BAB III
PEMBAHASAN
Sesuai
dengan namanya, pada dasarnya sistem EFI (Electronic Fuel Injection) mengatur,
mengontrol dan mengawasi jumlah bensin yang harus masuk ke dalam silinder
dengan cara mengatur waktu dan frekuensi penginjeksian bensin (injection
duration and frequency). Mesin EFI, sebagaimana diaplikasikan pada produk merek
Astra Group, memiliki beberapa kegunaan. Bahan bakar lebih hemat karena bensin
terpakai sesuai dengan jumlah kebutuhan ideal mesin, akselerasi lebih
responsif, dan pembakaran mesin berlangsung optimal pada semua kondisi kerja
mesin.Meski mesin EFI memiliki keunggulan, bukan berarti tidak menurun
performanya.Untuk mempertahankan performa mesin EFI, lakukanlah penggantian
pelumas mesin secara teratur. Keterlambatan bisa merusakkan mesin, sehingga
kinerja mesin akan menurun meskipun sistem EFI bekerja normal.
Sedikitnya
ada 3 faktor dominan yang mempengaruhi kinerja mesin EFI.Campuran bensin dan
udara yang tepat sesuai dengan kondisi kerja mesin.Hal ini sebagian sudah
dijelaskan pada edisi sebelumnya.Pada prinsipnya sistem EFI mampu menyediakan
campuran dalam jumlah dan perbandingan yang tepat sesuai dengan kondisi kerja
mesin.Sebagai indikator campuran tersebut adalah nilai lambda yang terlihat
saat dilakukan pengukuran gas buang.
EFI
yaitu suatu system yang bekerja dengan cara menginjeksikan bahan bakar kedalam
mesin (ruang bakar) yang di control oleh suatu unit elektronik (ECU) yang
gunanya untuk menjamin campuran bahan bakar dan udara yang merata sesuai dengan
kondisi kerja mesin.
Sistem
Fuel Injection mempunyai keistimewaan diatas system karburator sebagai berikut
:
- Meningkatkan
ekonomis bahan baker
- Meningkatkan
emisi
- Meningkatkan
response
- Power
output yang lebih tinggi
Sedangkan fungsi
sensor sensor pada system EFI seperti di atas pada dasarnya adalah untuk
mengontrol setiap komponen atau system tertentu pada engine. Jadi kerja ECU
dibantu oleh sensor sensor tersebut.Oleh karena itu sensor sensor tersebut juga
memilik peranan yang sangat penting selain ECU.
DAFTAR PUSTAKA
tgl,15-02-2012
tgl , 15-02-2012
tgl,
01-02-2012
tgl,
02-02-2012
tgl, 02-02-2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar